KULTUR SEKOLAH

Nama : m fijai nuramin 

Kelas : PAI 4c

Nim : 11901334

KULTUR SEKOLAH 

1. Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh 

suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang 

didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk 

memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama. Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. 

2. Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja disekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku

dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat 

sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika 

ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang 

positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk 

dikembangkan antara lain :

1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

(a) semangat membaca dan mencari referensi;

(b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; 

(c) kecerdasan emosional siswa; 

(d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; 

(e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : 

(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; 

(b) nilai-nilai keterbukaan; 

(c) nilai-nilai kejujuran; 

(d) nilai-nilai semangat hidup; 

(e) nilai-nilai semangat belajar; 

(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; 

(g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; 

(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;

(j) nilai-nilai disiplin diri; 

(k) nilai-nilai tanggung jawab; 

(l) nilai-nilai kebersamaan; 

(m) nilai-nilai saling percaya; 

(n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan 

Menengah Umum, 2003: 25-26).


Comments