Laporan baca 1 ( kultur sekolah)

 Nama: Muhammad Fijai Nuramin

NIM: 11901334

Kelas: PAI 4C

Mata kuliah: Magang 1.

Dosen pengampu: Farninda Aditya, M.pd.

Tugas: Laporan Bacaan (kultur sekolah)


KULTUR SEKOLAH

Kultur secara umun diartikan sebagai budaya, budaya lahir dari kebiasaan masyarakat nya.

Kegiatan pendidikan pada mulanya dilaksanakan dalam lingkungan keluarga dengan menempatkan ayah dan ibu sebagai pendidik utama dengan semakin dewasanya anak maka semakin banyak hal-hal yang dibutuhkan untuk dapat hidup dalam masyarakat secara layak dan wajar oleh karena itu orang tua memerlukan bantuan dalam mendidik anak-anaknya supaya dapat hidup berdiri sendiri secara layak di tengah masyarakat tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Sebagai suatu respon untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah munculnya usaha untuk mendirikan sekolah di lingkungan keluarga. Di dalam sekolah tentunya terdapat kultur atau budaya baik berupa peraturan sekolah visi misi sekolah dan ekstrakurikuler atau kebiasaan-kebiasaan di sekolah tersebut.

Selanjutnya hadari Nawawi mendefinisikan bahwa sekolah sebagai lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok kelompok umur tertentu di dalam ruang ruang kelas yang dipimpin oleh guru-guru untuk mempelajari kurikulum yang bertingkat sesuai dengan tingkatan atau porsi dari kemampuan psikologi peserta didik.

Menurut Ariefa Efianingrum, (2009: 21) Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh 

satu kelompok masyarakat, yang berhubungan dengan cara berfikir serta  perilaku, 

sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak

Oleh sebab suatu kultur Atau budaya secara  wajar akan diwariskan oleh satu generasi Untuk generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang dirancang untuk memuluskan proses pembudayaan atau kultural antar generasi tersebut. 

Menurut saya  dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan 

pengetahuan manusia  yang digunakannya untuk 

memahami  lingkungannya serta pengalamannya, 

serta menjadi landasan bagi setiap tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga 

merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau golongan 

sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan 

pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses 

belajar dan dengan dengan simbol-simbol yang ada dan terwujud dalam

bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai bentuk

karya yang dibuat oleh manusia itu sendiri). Dengan demikian, setiap anggota 

Setiap budaya pasti berbeda

disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar setiap orang yang berbeda dan karena 

lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya selalu sama.

Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah itu sendiri.   

Siti Irene Astuti D, (2009 : 119-120) menyatakan bahwa

sekolah mempunyai budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai 

pengalaman yang tidak mungkin sama dalam membangun budaya sekolah itu sendiri. 

Perbedaan dari setiap pengalaman inilah yang menggambarkan adanya sebuah “keunikan” 

dalam dinamika budaya sekolah. 

Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah dapat mempengaruhi cara orang untuk berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya merupakan kunci Dari keberhasilan sekolah dalam mempromosikan sekolah, staff dan belajar siswa. 


Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), 

sekolah itu memiliki budaya yang pasti tentang indentitas mereka sendiri. Di sekolah, ada sesuatu yang kompleks 

dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala 

sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang 

istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, Mengenali sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah itu sendiri.

Menurut Vembriarto, (1993)

Dalam suatu komponen sosiologi pendidikan, kebudayaan sekolah dimaknai sMenurut Vembriarto, (1993)

Dalam suatu komponen sosiologi pendidikan, kebudayaan sekolah dimaknai sebagai: 

yakni merupakan seperangkat keyakinan, nilai, dan tradisi, cara 

berpikir dan berperilaku yang membedakannya dari 

institusi-institusi lainnya. Selanjutbya dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur yang penting, mulai dari yang 

abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, 

yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim Yang terdapat dalam

kehidupan di sekolah. 

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non 

teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi 

keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik 

sekolah gedung sekolah, meja belajar dan perlengkapan lainnya.

Sekolah berperan dalam menyampaikan 

kebudayaan dari setiap generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan Secara umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu.

 Kebudayaan sekolah merupakan suatu

bagian dari kebudayaan masyarakat yang luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas Atau unik sebagai suatu 

sub-kebudayaan/sub-culture.

 timbulnya kebudayaan sekolah 

adalah peran sekolah yang khas yakni dalam mendidik anak 

melalui penyampaian sejumlah pengetahuan 

(kognitif), sikap (afektif), ketrampilan 

(psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum 

dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang 

berlaku di sekolah itu. 


D. Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Kultur sekolah bukan sekedar kultur di sekolah. 

Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. 

Masing-masing sekolah dapat mengembangkan 

keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh 

karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing 

sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang Selalu dianggap penting oleh masing-masing sekolah, 

seperti: visi-misi, kondisi dan potensi tiap-tiap sekolah itu sendiri.

Sejumlah sekolah lebih menekankan pada kultur sekolah 

yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi 

akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat 

dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bermacam ragam atau bervariasi.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan sekolah:

1. Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic 

athmosphere) yang memiliki tujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanya 

terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa 

cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya. 


______________________________________

2. Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan 

melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan 

melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara 

kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang 

bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam 

realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya 

ditentukan dari prestasi akademik yang telah dimiliki oleh seseorang, melainkan juga disebabkan oleh prestasi 

non-akademiknya. Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jadi tolak ukur sebuah kecerdasan tidak bisa dilihat hanya dari berbagai prestasi akademik yang dimilikinya. 

3. Karakter

Karakter itu berkaitan dengan moral peserta didik dan Berkonotasi Ini yang baik atau positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup setiap pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang 

mempengaruhi, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan setiap kebiasaan-kebiasaan yang baik. 

Karakter bersifat luar dan dalam, maksudnya adalah bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik 

ini terjadi karena adanya dorongan internal atau dari dalam diri seseorang, bukan karena paksaan dari luar atau lingkungan sekitarnya.  

Adapun variasi nilai karakter yang dapat 

dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: 

yang kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4. Kelestarian Lingkungan Hidup 

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) 

mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai 

sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga 

kelestarian lingkungan hidup yang sehat. Penghargaan tersebut 

perlu dihargai atau diapresiasi dalam hal merangsang atau menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, 

predikat sekolah adiwiyata tidak serta merta muncul dengan 

sendirinya saja, tanpa diupayakan melalui 

pengembangan kultur atau budaya sekolah ramah lingkungan, dan cinta terhadap lingkungan. 

Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan 

sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang 

berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan 

berkelanjutan (sustainability). Untuk 

mewujudkannya, memerlukan komitmen dan kerjasama bersama 

seluruh komponen atau warga sekolah dalam pengembangan kultur atau budayasekolah yang ramah lingkungan. 

C. Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi 

mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan Nilai (Vision and Values) 

2. Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat 

dalam membangun jaringan informal yang relevan 

dengan budaya. Momentum-momentum penting di 

sekolah dapat dirayakan secara sederhana.

3. Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Karena sejatinya masa lalu atau sejarah itu penting untuk diketahui demi memberikan pelajaran yang baik untuk kedepannya.

4. Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artists)

Arsitektur yang dimaksud disini adalah segala hal yang mencakup objek fisik berupa bangunan sekolah,

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: 

arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap 

sekolah pasti memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu 

(mars/hymne), dan seragam sekolah yang khas dan mencerminkan atau melambangkan visi misi sekolah itu sendiri, Pemanfaatan 

lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, gerbang, selasar sekolah, dan lorong sekolah.

_______________________________________

Pengaruh dari orang tua dalam menunjang segala kegiatan sekolah, keteladan guru (mendidik dengan baik atau profesional, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi dari siswa  yang membanggakan nama sekolah adalah tiga hal yang akan menyuburkan budaya sekolah dan tentunya memberikan pengaruh yang baik.

 Kegiatan-kegiatan itu menjadi nilai tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga ”karakter atau watak siswa” dapat dilihat secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan langsung oleh sekolah.

 

Di Dalam pengembangan kultur sekolah, terdapat 

beragam pilihan alternatif yang dapat disesuaikan 

dengan visi-misi dan kondisi sekolah, serta profil 

siswa dalam aneka kecerdasan majemuk Sebagai 

sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan 

kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang 

dimiliki masing-masing, yang bisa jadi identik dengan kultur 

masyakarat yang lebih luas. Dengan adanya keragaman  

tersebut, setiap sekolah memiliki peluang yang sama 

untuk membanggakan keunggulan sekolah masing-masing yang khas. Semua ini tergantung pada peran 

pimpinan sekolah atau kepala sekolah yang dapat menggerakkan, membangun dan

mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada 

seluruh warga sekolah




Referensi:


Elfianingrum, Ariefa.  2013. Kultur sekolah. Jurnal pemikiran dan sosiologi, vol. 2, No 1, Hlm. 22-28

Comments